Gregorius Agung Pradipto, S.Pt instagram : greg_pradipto

Minggu, 04 Mei 2014

LAPORAN MAGANG TEKNOLOGI HASIL TERNAK DI RUMAH PEMOTONGAN AYAM “ AYAM PRODUCT” Kepuh GK.III/973 Kel. Klitren, Kec. Gondokusuman, Yogyakarta

 LAPORAN MAGANG  TEKNOLOGI HASIL TERNAK
DI RUMAH PEMOTONGAN AYAM  “ AYAM PRODUCT”
Kepuh GK.III/973 Kel. Klitren, Kec. Gondokusuman, Yogyakarta











Disusun oleh :
1.      Grogerius Agung Pradipto        : 092199
2.      Agung Setyo Nugroho                : 102207
3.      Stifvanus Dwi Handoko             : 102210







AKADEMI PETERNAKAN BRAHMAPUTRA
YOGYAKARTA
2013






KATA PENGATAR

            Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan yang telah memberikan rahmat dan hidayahNya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan kegiatan magang di rumah pemotongan ayam ( RPA ) serta dapat menyelesaikan laporan ini dengan baik.
            Maksud dan tujuan penyusunan laporan ini adalah merupakan salah satu syarat dari mata kuliah magang bidang teknologi hasil ternak di Akademi Peternakan Brahmaputra Yogyakarta.
            Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada :
1.      Bapak Drh. Khusnan, MP selaku Direktur Akademi Peternakan Brahmaputra.
2.      Bapak Drh. Agus Purnomo, MP selaku koordinator pembimbing magang bidang teknologi hasil ternak dan sisa ternak.
3.      Bapak H. Joko Sampurno selaku pemilik rumah pemotongan ayam “ Ayam Product”.
4.      Semua pihak yang telah membantu terselesaikannya laporan ini.

Kami menyadari sepenuhnya bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan laporan ini. Harapan kami semoga laporan ini dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa khususnya dan pembaca pada umumnya.


                                                                        Yogyakarta,  Maret 2013
                                                                                   
                                                                                    Penyusun







DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.............................................................................. i
KATA PENGANTAR............................................................................ ii
DAFTAR ISI.......................................................................................... iii- iv
DAFTAR TABEL.................................................................................. v
BAB I. PENDAHULUAN.................................................................... 1
1.1  Latar belakang................................................................................... 1
1.2  Tujuan dan manfaat magang............................................................. 2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA.......................................................... 3
2.1. Ayam Pedaging................................................................................ 3
2.2. Ayam Broiler.................................................................................... 3
2.3. Pertumbuhan.................................................................................... 4
2.4. Karkas.............................................................................................. 5
2.5. Otot dan Daging.............................................................................. 6
2.6. Teknik Pemotongan Ayam............................................................... 7
2.7. Ready to Cook................................................................................. 9
2.8. Lemak Abdominal............................................................................ 9

BAB III.  MATERI DAN METODE.................................................... 10
3.1. Materi............................................................................................... 10
3.2. Metode............................................................................................. 10
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN............................................. 11
4.1. Keadaan Umum RPA...................................................................... 11
4.2. Kepemilikan dan Tenaga Kerja........................................................ 11
4.3. Proses Pemotongan Ayam................................................................ 13
4.4. Distribusi Produk Daging dan Harga............................................... 16
4.5..................................................................... 18

BAB V. KESIMPULAN........................................................................ 19
BAB VI. DAFTAR PUSTAKA............................................................. 22
LAMPIRAN...........................................................................................



DAFTAR TABEL
1.Jumlah Tenaga Kerja RPA “ Ayam Product”...................................... 11  
2.Harga bagian – bagian Ayam .............................................................. 15


                                                                            BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar belakang
Peternakan adalah salah satu bidang pertanian yang menghasilkan daging, susu, telur dan hasil- hasil olahannya serta hasil sisa produksi. Pembangunan peternakan untuk memenuhi kebutuhan, meningkatkan produksi dan kualitas produk. Daging sudah dikenal sebagai salah satu bahan makanan yang hampir sempurna, karena mengandung gizi yang lengkap dan dibutuhkan oleh tubuh, yaitu protein hewani, energi, air, mineral dan vitamin. Disamping itu daging memiliki rasa dan aroma yang enak sehingga disukai oleh hampir semua orang.
Industri daging dan produk olahannya adalah salah satu cabang industri bahan makanan manusia yang penting dan saling terkait dengan ilmu dan teknologi daging. Cabang ilmu pengetahuan dasar dan penelitian terapan ini bersifat dinamis, kompleks dan selalu berkembang. Perkembangan dan teknologi daging adalah esensial karena berkaitan dengan produktivitas ternak guna memenuhi konsumsi daging berkualitas tinggi dan selalu meningkat.
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi atau mengontrol produksi dan kualitas daging. Faktor-faktor tersebut dapat dikontrol, dimanipulasi, dan dikuasai atau dimanfaatkan oleh manusia untuk menciptakan daya guna dan hasil guna yang optimal.
Dalam memenuhi permintaan kebutuhan daging terutama daging ayam pedaging maka dapat dipenuhi oleh para produsen pegolahan ayam pedaging. Daging ayam pedaging sebelum sampai konsumen, terlebih dahulu ada proses-proses pengolahan pada ayam pedaging yang dijual dalam bentuk daging. Produk hasil pengolahan yang utama adalah karkas. Karkas ayam adalah ayam yang telah disembelih kemudian darah dikeluarkan, dibersihkan bulunya, dihilangkan leher, kepala, kaki mulai dari sendi lutut ke bawah, isi rongga perut. Kualitas karkas sangat menentukan harga dan nilai daging sebagai produk.
 Broiler adalah ayam pedaging yang dipelihara dengan tujuan pokok untuk dipotong pada umur antara 6 sampai 8 minggu dengan berat hidup sekitar 2 kg ( Wartomo dan astuti, 1993 ). Ayam broiler dipasarkan pada berat 1,3 sampai 1,6 kg per ekor pada umur 5 sampai 6 minggu karena broiler yang terlalu besar susah dijual ( Rasyaf, 2009 ).

1.2.Tujuan dan Manfaat
Pelaksanaan magang bidang Teknologi Hasil Ternak dan Sisa Ternak yang dilaksanakan di Rumah Pemotongan Ayam “ Ayam Product “ Kepuh, GK.III/973 Yogyakarta  bertujuan untuk menambah pengetahuan, pengalaman, dan wawasan dalam tatalaksana atau teknik pemotongan ayam pedaging dirumah pemotongan hewan. Serta dapat memberikan manfaat tentang informasi harga ayam dan distribusi produk daging ayam sampai ke tangan konsumen.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ayam Pedaging
Ayam pedaging merupakan ayam dari jenis strain khusus yang dipelihara dengan tujuan untuk dipotong sebagai penghasil daging, kecepatan pertumbuhan sangat cepat dan kualitas daging baik ( Siregar dkk, 1982).
Pengusahaan dan pengembangan yang pesat terhadap ayam pedaging sangat beralasan karena ayam ras ini mempunyai keunggulan berproduksi lebih tinggi daripada ayam buras, yaitu pertumbuhan badannya sangat cepat dengan perolehan timbangan bobot badan yang tinggi dalam waktu yang relatif pendek, yaitu pada umur 5- 6 minggu bobot badan dapat mencapai 1,3 – 1,8 kg. Disamping itu pedaging mempunyai kemampuan untuk mengubah bahan makanan menjadi daging dengan sangat hemat, artinya dengan jumlah pakan yang sedikit dapat diperoleh penambahan bobot badan yang tinggi ( Cahyono, 1995).


2.2 Ayam Broiler
Broiler adalah ayam pedaging yang dipelihara dengan tujuan pokok untuk dipotong pada umur antara 6 sampai 8 minggu dengan berat hidup sekitar 2 kg ( Wartomo dan astuti, 1993 ). Ayam broiler dipasarkan pada berat 1,3 sampai 1,6 kg per ekor pada umur 5 sampai 6 minggu karena broiler yang terlalu besar susah dijual ( Rasyaf, 2009 ). Selanjutnya, ayam broiler tumbuh optimal pada temperatur lingkungan 19 sampai 21 derajat celsius.
Ayam broiler memiliki kelebihan dan kelemahan, kelebihannya adalah dagingnya empuk, ukuran badan besar, bentuk dada lebar, padat dan berisi,efisiensi terhadap pakan cukup tinggi, sebagian besar dari pakan diubah menjadi daging dan pertambahan bobot badan sangat cepat sedangkan kelemahannya adalah memerlukan pemeliharaan secara intensif dan cermat, relatif lebih peka terhadap suatu infeksi penyakit dan sulit beradaptasi(Murtidjo,1987). Pertumbuhan yang paling cepat terjadi sejak menetas sampai umur 4-6 minggu, kemudian mengalami penurunan dan terhenti sampai mencapai dewasa (Kartasudjana dan Suprijatna, 2006).

                  Gambar 1 : ayam broiler.

2.3 Pertumbuhan
            Jaringan- jaringan tubuh mengalami pertumbuhan yang berbeda dan mencapai pertumbuhan maksimal dengan kecepatan yang berbeda pula. Komponen tubuh secara komulatif menagalami pertambahan berat selama pertumbuhan sampai dewasa, jadi pertumbuhan mempengaruhi pola distribusi berat dan komposisi kimia komponen-komponen tubuh termasuk tulang, otot dan lemak ( Soeparno, 1998 ).
            Selama pertumbuhan, tulang tumbuh secara kontinu dengan kadar laju pertumbuhan yang relatif lambat, sedangkan pertumbuhan otot yang relatif cepat, sehingga rasio otot dengan tulang meningkat selama pertumbuhan ( Berg dan Butterfield, 1976 yang disitasi oleh Soeparno, 1998). Cullison ( 1979) memberikan istilah pertumbuhan sebagai bertambah besarnya otot, tulang dan alat- alat tubuh serta jaringan konektif.
            Gejala pertumbuhan dapat diamati dengan adanya perubahan fisik yang menyangkut perubahan konfirmasi tubuh, pertambahan berat dan berubahnya tubuh dengan cara yang sangat teratur ( Soeharsono, 1976 ). Faktor- faktor yang mempengaruhi pertumbuhan antara lain bangsa ayam, jenis kelamin, panjang shank ( cakar) dan pakan ( Umboh dkk, 1981).
            Karkas ternak muda relatif mengandung tulang yang tinggi proporsinya karena perkembangan tulang sangat baik dari saat lahir dan setelah mencapai berat pedaging, proporsi tulang menurun, atas dasar relatif karena adanya pertumbuhan otot dan lemak ( William, 1982).

2.4 Karkas
            Karkas ayam adalah ayam yang telah disembelih kemudian darahnya dikeluarkan, dibersihkan bulunya, dihilangkan leher, kepala, kaki mulai dari sendi lutut ke bawah, isi rongga perut dan dada ( Siregar dkk, 1982). Menurut Soeparno (1998), umur, berat hidup, dan kadar laju pertumbuhan mempengaruhi komposisi karkas. Proporsi tulang, otot, lemak, sebagai komponen utama karkas dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan.
Gambar 2 : karkas ayam.

            Kadar laju pertumbuhan, nutrisi, umur dan berat tubuh adalah faktor- faktor yang mempunyai hubungan erat antara satu dengan yang lain dan biasanya dapat secara individu atau kombinasi mempengaruhi komposisi tubuh atau karkas. Berat tubuh, mempunyai hubungan yang erat dengan komposisi tubuh ( Soeparno, 1998).

            Kualitas karkas adalah nilai karkas yang dihasilkan oleh ternak relatif terhadap kondisi pemasaran. Faktor yang menentukan nilai karkas meliputi berat karkas, jumlah daging yang dihasilkan dan kualitas dari daging karkas yang bersangkutan ( Soeparno, 1998). Pada prinsipnya, jumlah daging yang dihasilkan adalah proporsional terhadap jumlah lemak karkas. Jadi penilaian karkas dapat didasarkan atas berat karkas dan tingkat perlemakan. Meskipun demikian, karena lemak tidak terdistribusi secara merata, maka estimasi nilai-nilai karkas ( kualitas hasil) masih menghadapi problema yang kompleks ( Swatland, 1984).
            Perubahan biokemis dan biofisis pada konversi otot menjadi daging diawali pada saat penyembelihan ternak. Faktor yang mempengaruhi kondisi ternak sebelum pemotongan akan mempengaruhi tingkat konversi otot menjadi daging dan juga mempengaruhi kualitas daging yang dihasilkan ( Soeparno,1998).
            Produksi karkas ayam pedaging berhubungan erat dengan berat hidup, semakin tinggi berat hidup maka semakin tinggi pula berat karkasnya ( Widhiharti, 1987).



2.5 Otot dan Daging
            Daging di definisikan sebagai jaringan hewan dan semua produk hasil pengolahan jaringan-jaringan tersebut yang sesuai untuk dimakan serta tidak menimbulkan gangguan kesehatan bagi yang memakannya ( Soeparno, 1998). Organ-organ misalnya hati, ginjal, otak, paru-paru, jantung, limpa, pankreas dan jaringan otot termasuk definisi ini.
            Otot hewan berubah menjadi daging setelah pemotongan karena fungsi fisiologi telah terhenti. Otot merupakan komponen utama penyusun daging. Daging tersusun dari jarinag ikat, epitelial, jaringan- jaringa syaraf, pembulu darah dan lemak. Otot adalah jaringan yang mempunyai struktur dan fungsi utama sebagai penggerak ( Soeparno, 1998).
            Daging adalah komponen utama karkas. Karkas juga tersusun dari lemak, jaringan adiposa, tulang-tulang rawan, jaringan ikat dan tendo. Komponen- komponen tersebut menentukan ciri- ciri kualitas dan kuantitas daging.


2.6 Teknik Pemotongan Unggas
            Menurut ( Swatland, 1984), untuk memperoleh hasil pemotongan yang baik, ternak unggas sebaiknya diistirahatkan sebelum dipotong. Cara pemotongan ternak unggas yang lazim digunakan di Indonesia adalah cara Kosher, yaitu memotong arteri karotis, vena jugularis dan esofagus. Pada saat penyembelihan, darah harus keluar sebanyak mungkin. Jika darah dapat keluar secara sempurna, maka beratnya 4 % dari bobot tubuh. Proses pengeluaran darah pada ayam biasanya berlangsung selama 50 – 120 detik, tergantung dari besar kecilnya ayam yang dipotong. Setelah penyembelihan, dilakukan pembersihan bulu. Untuk mempermudah pencabutan bulu, unggas dicelup ke dalam air hangat, antara 50 – 80 0 C selama waktu tertentu. Pada prinsipnya ada 3 cara perendaman dalam air hangat, tergantung pada umur dan kondisi unggas. ( 1 ) Perendaman dalam air dalam air agak  panas 55 – 60 0  C selama 45 – 90 detik untuk ayam tua dan ( 3 ) Perendaman pada air panas 65 – 80 0 C selama 5 -30 detik, kemudian dimasukan ke dalam air dingin agar kulit tidak masak. Cara ini digunakan untuk itik dan angsa. Untuk broiler, perendaman dalam air hangat dilakukan cukup pada temperatur 50 – 54 0 C selama 30 detik. Perendaman pada temperatur lebih tinggi dari 58 0 C dapat menyebabkan kulit menjadi gelap, lekat dan mudah diserang bakteri, sehingga perendaman pada temperatur tinggi antara 70 – 80 0 C, hanya dilakukan terhadap unggas kualitas rendah ( Swatland, 1984 ).

Gambar 3 : penyembelihan ayam.

            Setelah pencabutan bulu atau pembersihan bulu, dilakukan pengeluaran jerohan yang salah sati caranya sebagai berikut, proses pengeluaran jerohan dimulai dari pemisahan tembolok dan trakea serta kelenjar minyak dibagian ekor. Kemudian pembukaan rongga badan dengan membuat irisan dari kloaka ke arah tukang dada. Kloaka dan viscera atau jerohan dikeluarkan, kemudian dilakukan pemisahan organ- organ, yaitu hati dan empedu, empedal dan jantung. Isi empedal harus dikeluarkan  : demikian pula, empedu dipisahkan dari hati dan di buang. Paru- paru, ginjal, testes ( pada ayam jantan) atau ovarium( pada ayam betina ) dapat dipisahkan dari bawah columna vertebralis. Kepala, leher dan kaki juga dipisahkan. Apabila tidak segera dikonsumsi, karkas unggas didinginkan degan memasukan ke dalam campuran air dan es. Setelah pendinginan, leher dan giblet yaitu jantung, hati dan empedal dimasukkan ke dalam karkas ( Soeparno, 1998 ).


2.7 Ready to Cook
            Menurut Mountney ( 1976 ) Ready to Cook yaitu ayam setelah disembelih dikurangi darah, bulu, cakar, kepala dan jerohan, kecuali giblet ( jantung, hati dan rempelo). Ready to Cook merupakan karkas yang siap dimasak dengan diikutkan giblet serta leher ( Winter dan Funk, 1960 ). Ready to Cook bervariasi tergantung kondisi ayam, dimana ayam yang gemuk kehilangan berat lebih sedikit dibandingkan ayam yang kurus ( Robison, 1961 ).


2.8 Lemak Abdominal
            Lemak  merupakan cadangan energi yang terbentuk dari lemak, karbohidrat atau protein pakan ( Anggorodi, 1980 ).
            Kelebihan energi pada ayam pedaging disimpan dalam bentuk lemak yang umumnya terkumpul pada rongga abdominal sebagai lemak abdominal ( Farrel, 1974 ). Lemak abdominal merupakan lapisan lemak disekitar gizzard ( rempelo) dan lapisan antara otot abdominal dan usus sedangkan lapisan yang dalam ischium dan lapisan sekitar bursa fabricius dan sekitar kloaka digolongkan sebagai lapisan lemak pada otot- otot abdominal dalam area bursa fabricius dan kloaka ( Kubena, 1974 ). Penimbunan lemak dipengaruhi oleh komposisi pakan, temperatur, tipe kandang, umur dan sex ( Mollison dan Guenter, 1984 ).





BAB III
MATERI DAN METODE
            Kegiatan magang Teknologi Hasil Ternak dilaksanakan pada tanggal 11 Februari 2013, di Rumah Pemotongan Ayam “ Ayam Product “ Kepuh, GK. III/973, Kelurahan Klitren, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Propinsi Daerah istimewa Yogyakarta, Pimpinan Bapak H. Joko Sampurno.
3.1 Materi
            Materi yang digunakan dalam kegiatan magang ini adalah 5000 ekor ayam broiler siap potong yang diambil dari peternakan ayam broiler yang berada diwilayah sekitar Yogyakarta dan Jawa Tengah dengan pemotongan rata-rata per hari di Rumah Pemotongan Ayam “ Ayam Product “ Kepuh, GK. III/973, Kelurahan Klitren, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Propinsi Daerah istimewa Yogyakarta, Pimpinan Bapak H. Joko Sampurno, sekitar 700 – 1000 ekor per hari. Peralatan yang digunakan dalam kegiatan tersebut antara lain Mesin bubut bulu, tungku api, kayu bakar, panci perebusan air,mobil distribusi ayam dari peternakan ayam ke RPA, kranjang ayam, timbangan, pisau potong, plastik-plastik pembungkus daging dan sepeda motor untuk distribusi produk daging ayam ke konsumen.
3.2 Metode
            Metode yang digunakan dalam Magang adalah dengan partisifasi aktif dalam proses pemotongan ayam broiler di RPA dan melakukan kuisioner terhadap pegawai  maupun pemilik Rumah Pemotongan Ayam.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Keadaan Umum RPA
            Rumah pemotongan ayam “ Ayam Product” Kepuh, GK. III/973, Kelurahan Klitren, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Propinsi Daerah istimewa Yogyakarta, Pimpinan Bapak H. Joko Sampurno berdiri Tahun 1977, merupakan bagian dari kegiatan peternakan mengingat bahwa kota Yogyakarta setiap tahun penduduknya bertambah sehingga sangat membutuhkan bahan makanan untuk dikonsumsi oleh masyarakat Kota Yogyakarta termasuk daging ayam.
            RPA ini dibangun diatas lahan seluas 124 m2 yang terletak di belakang rumah pemiliknya sehingga mempermudah pengawasan terhadap proses pemotongan ayam setiap harinya.

4.2 Kepemilikan dan Tenaga Kerja
Rumah Pemotongan Ayam “ Ayam Product “ Kepuh, GK. III/973, Kelurahan Klitren, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Propinsi Daerah istimewa Yogyakarta, Pimpinan Bapak H. Joko Sampurno dengan status kepemilikan pribadi serta status permodalan perorangan.
            RPA ini memiliki beberapa tenaga kerja atau karyawan yang berasal dari lingkungan sekitar rumah pemotongan ayam diantaranya, tukang potong berjumlah 7 orang, tukang giling berjumlah 1 orang, tukang cuci, cacah, bersih- bersih dan lain-lain berjumlah 15 orang serta driver atau pengemudi berjumlah 3 orang. Total tenaga kerja yang dimiliki berjumlah 26 orang terdiri lebih banyak tenaga kerja berjenis kelamin wanita.
Gamabr 4 : Para pegawai “Ayam Product”


            Tabel 1. Jumlah Tenaga Kerja RPA “ Ayam Product”

No.
Tugas atau Bagian
Jumlah
1.
Tukang potong
7 orang
2.
Tukang giling
1 orang
3.
Cuci, cacah,bersih dan lain-lain
15 orang
4.
Driver
3 orang

Jumlah
26 orang
Sumber : RPA “ Ayam Product “
            Proses pemotongan atau penyembelihan ayam dilakukan mulai dari pukul 02.00 WIB sampai dengan pukul 08.00. Dilanjutkan distribusi produk daging sampai ke tangan konsumen sampai dengan pukul 10.00 WIB.



4.3 Proses Pemotongan Ayam
            Pemotongan ayam adalah kegiatan untuk menghasilkan daging yang terdiri dari pemeriksaan ante mortem, penyembelihan, penyelesaian penyembelihan dan pemeriksaan post mortem.
            Rumah Pemotongan Ayam “ Ayam Product “ Kepuh, GK. III/973, Kelurahan Klitren, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Propinsi Daerah istimewa Yogyakarta, Pimpinan Bapak H. Joko Sampurno biasanya memotong ayam broiler dengan berat rata- rata 1,5 – 1,6 kg dan perharinya mampu memotong ayam sebanyak 700- 1000 ekor serta setiap ayam yang akan dipotong harus memenuhi persyaratan antara lain sebagai berikut, ( 1). Ayam tersebut berasal atau dibeli dari daerah yang tidak ditutup karena berjangkit penyakit ayam menular berdasarkan hasil pemantauan kesehatan ayam dari Instansi yang berwenang, biasanya RPA ‘ Ayam product” mengambil ayam- ayam yang siap dipotong dari peternakan ayam broiler disekitar daerah Yogyakarta dan Jawa Tengah. ( 2 ). Dilakukan pemeriksaan ante mortem oleh petugas pemeriksa. ( 3 ). Dari hasil pemeriksaan ante mortem tersebut maka petugas pemeriksaan memutuskan boleh dan tidaknya ayam tersebut dipotong, ini dilakukan untuk mengawasi dan menjaga keamanan produk daging yang dihasilkan serta untuk menjaga kesehatan konsumen. Hal ini sesuai dengan pendapat ( Soeparno 1998) bahwa daging di definisikan sebagai jaringan hewan dan semua produk hasil pengolahan jaringan-jaringan tersebut yang sesuai untuk dimakan serta tidak menimbulkan gangguan kesehatan bagi yang memakannya. ( 4 ). Pemotongan ayam dilakukan dibawah pengawasan dan menurut petunjuk- petunjuk petugas pemeriksaan. ( 5 ). Penyembelihannya dilakukan menurut tata cara islam. Hal ini sesuai dengan pendapat ( Swatland, 1984 ) bahwa cara pemotongan ternak unggas yang lazim digunakan di Indonesia adalah cara Kosher, yaitu memotong arteri karotis, vena jugularis dan esofagus. ( 6 ). Ayam- ayam yang akan disembelih sebelumnya di istirahatkan terlebih dahulu kurang lebih 5 -6 jam dengan tujuan saat disembelih darahnya dapat keluar dengan lancar dan mendapatkan daging yang berkualitas, kemudian diikat dan digantung yang telah tersedia baru disembelih, biasanya ayam-ayam yang diambil dari peternakan ayam broiler pada sore hari dan baru disembelih pada dini hari sekitar pukul 02.00 WIB, hali ini sependapat dengan ( Swatland, 1984 ) menyatakan bahwa untuk memperoleh hasil pemotongan yang baik, ternak unggas sebaiknya diistirahatkan sebelum dipotong dan  saat penyembelihan, darah harus keluar sebanyak mungkin. Jika darah dapat keluar secara sempurna, maka beratnya 4 % dari bobot tubuh. Proses pengeluaran darah pada ayam biasanya berlangsung selama 50 – 120 detik, tergantung dari besar kecilnya ayam yang dipotong. ( 7 ). Setelah ayam yang disembelih tidak bergerak dan darahnya berhenti mengalir, dilakukan penyelesaian penyembelihan, dengan ayam dimasukan ke dalam air panas bersuhu 52 – 60 0 C selama 1,5 menit untuk ayam muda dan suhu 70 – 80 0 C selama 1 -2 menit untuk ayam yang sudah tua, dalam proses pemanasan air menggunakan tungku yang berbahan bakar kayu ini dilakukan untuk keamanan RPA dari kebakaran makanya digunakan tungku kayu bakar daripada menggunakan tungku kompor gas. Hal tersebut tidak sesuai dengan pendapat ( Swatland, 1984) yang menyatakan bahwa setelah penyembelihan, dilakukan pembersihan bulu. Untuk mempermudah pencabutan bulu, unggas dicelup ke dalam air hangat, antara 50 – 80 0 C selama waktu tertentu. Pada prinsipnya ada 3 cara perendaman dalam air hangat, tergantung pada umur dan kondisi unggas. ( 1 ) Perendaman dalam air dalam air agak  panas 55 – 60 0  C selama 45 – 90 detik untuk ayam tua dan ( 3 ) Perendaman pada air panas 65 – 80 0 C selama 5 -30 detik, kemudian dimasukan ke dalam air dingin agar kulit tidak masak. Cara ini digunakan untuk itik dan angsa. Untuk broiler, perendaman dalam air hangat dilakukan cukup pada temperatur 50 – 54 0 C selama 30 detik. Juga  perendaman pada temperatur lebih tinggi dari 58 0 C dapat menyebabkan kulit menjadi gelap, lekat dan mudah diserang bakteri, sehingga perendaman pada temperatur tinggi antara 70 – 80 0 C, hanya dilakukan terhadap unggas kualitas rendah. Selanjutnya dilakukan proses pencabutan bulu dengan menggunakan mesin pencabut atau perontok bulu. ( 8 ). Setelah proses pencabutan dan pembersihan bulu selesai, dilakukan proses pengeluaran jerohan dan pemisahan karkas. Karkas merupakan ayam yang telah dikeluarkan jeroannya, kepala dipisahkan dengan leher hingga batas pemotongan dan kaki. Selama proses pengolahan akan terjadi kehilangan berat hidup kurang lebih 1/3 bagian (berat daging siap masak itu nantinya kurang lebih 2/3 dari berat hidupnya) karena bulu, kaki, cakar, leher, kepala, jeroan atau isi dalam dan ekor dipisah dari bagian daging tubuh dengan demikian daging siap masak itu hanya tinggal daging pada bagian tubuh tambah dengan siap masak itu 75% dari berat hidup. Menurut ( Swatland, 1984 ) setelah pencabutan bulu atau pembersihan bulu, dilakukan pengeluaran jerohan yang salah sati caranya sebagai berikut, proses pengeluaran jerohan dimulai dari pemisahan tembolok dan trakea serta kelenjar minyak dibagian ekor. Kemudian pembukaan rongga badan dengan membuat irisan dari kloaka ke arah tukang dada. Kloaka dan viscera atau jerohan dikeluarkan, kemudian dilakukan pemisahan organ- organ, yaitu hati dan empedu, empedal dan jantung. Isi empedal harus dikeluarkan  : demikian pula, empedu dipisahkan dari hati dan di buang. Paru- paru, ginjal, testes ( pada ayam jantan) atau ovarium( pada ayam betina ) dapat dipisahkan dari bawah columna vertebralis. Kepala, leher dan kaki juga dipisahkan. Karkas ayam menurut ( Siregar dkk, 1982 ) Karkas ayam adalah ayam yang telah disembelih kemudian darahnya dikeluarkan, dibersihkan bulunya, dihilangkan leher, kepala, kaki mulai dari sendi lutut ke bawah, isi rongga perut dan dada. Setelah mendapatkan bagian  karkas dan non karkas ayam selanjutnya dicuci sampai bersih dan segera didistribusikan kepada para pelanggan.


Gamabar 5 : pencelupan ayam pada air panas.


Gambar 6 : mesin pencabut bulu.


4.4 Distribusi Produk Daging dan Harga
            Setelah proses pemotongan ayam selesai dan dikemas sesuai pesanan barulah produk ternak yang berupa daging ayam di didistribusikan ke sejumlah daerah serta beberapa tempat makan juga hotel.
Rumah Pemotongan Ayam “ Ayam Product “ Kepuh, GK. III/973, Kelurahan Klitren, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Propinsi Daerah istimewa Yogyakarta, Pimpinan Bapak H. Joko Sampurno memiliki 77 pelanggan tetap maupun tidak tetap untuk mendistribusikan produk daging ayam diantaranya Pecel Lele, RM. Lela, Hotel INNA GARUDA, Jogja Chicken, warung SS, warung Padang, Sejumlah pasar seperti pasar Demangan dan diambil langsung oleh para konsumen serta dikirim ke daerah Klaten.
Setiap bagian karkas dan non karkas hasil pemisahan dalam pemotongan ayam tersebut memiliki berbagai jenis harga sendiri dipasaran, dimana harga- harga bagian tersebut dapat berubah- ubah sesuai harga pasaran seperti harga daging ayam ( karkas ) pada saat ini sebesar Rp. 26.000 rupiah untuk per kilogram nya, untuk cakar Rp. 12.000 rupiah per kilogramnya, kepala Rp. 12.000 rupiah per kilogramnya, untuk bagian sayap Rp 20.000 rupiah per kilogramnya, usus ayam per kilogramnya Rp. 14.000 rupiah, dan hati ampela per kilogramnya Rp. 20.000 rupiah.



Tabel 2. Harga bagian-bagian ayam
No.
Nama bagian
Harga
1.
Karkas ( daging ayam)
Rp. 26.000 / kg
2.
Cakar ayam
Rp. 12.000 / kg
3.
Kepala ayam
Rp. 12.000 / kg
4.
Sayap ayam
Rp. 20.000 / kg
5.
Usus ayam
Rp. 14.000 / kg
6.
Hati ampela
Rp. 20.000 / kg
7.
Kotoran, bulu, ayam mati
Rp. 10.000 / karung
Sumber : RPA “ Ayam Product “




4.5 Sanitasi RPA
Dampak menurunya kualitas air pada kegiatan maupun disekitar kegiatan rumah pemotongan ayam ( RPA ) “ Ayam Product “ di Kepuh, GK. III/ 973 Yogyakarta ( dari buangan limbah cair sisi- sisa cucian daging an kotoran ayam) perlu dikelola dengan baik agar tidak mencemari lingkungan sekitar kegiatan.
Adapun pengelolaan yang dilakukan sekarang adalah sebagai berikut, limbah cair hasil dari cucian daging dan kotoran ayam tersebut sebelum dibuang ke perairan bebas, diolah terlebih dahulu dengan dibuatka bak- bak pengendap senjumlah 12 bak pengendapan. Untuk rencana perbaikan pengelolaan yang akan dilakukan adalah akan membuat Instalasi Pengolahan Limbah Cair ( IPLC ) yang khusus dirancang untuk pengolahan limbah cair pemotongan ayam.

Gambar 7 : lubang Instalasi Pengolahan Limbah Cair ( IPLC).




BAB V
KESIMPULAN
            Dari hasil magang yang dilakukan di Rumah Pemotongan Ayam “ Ayam Product “ Kepuh, GK. III/973, Kelurahan Klitren, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Propinsi Daerah istimewa Yogyakarta dapat di ambil kesimpulan bawah proses pemotongan atau penyembelihan ayam dilakukan mulai dari pukul 02.00 WIB sampai dengan pukul 08.00. Dilanjutkan distribusi produk daging sampai ke tangan konsumen sampai dengan pukul 10.00 WIB.
            Biasanya memotong ayam broiler dengan berat rata- rata 1,5 – 1,6 kg dan perharinya mampu memotong ayam sebanyak 700- 1000 ekor serta setiap ayam yang akan dipotong harus memenuhi persyaratan antara lain sebagai berikut, ( 1). Ayam tersebut berasal atau dibeli dari daerah yang tidak ditutup karena berjangkit penyakit ayam menular berdasarkan hasil pemantauan kesehatan ayam dari Instansi yang berwenang, biasanya RPA ‘ Ayam product” mengambil ayam- ayam yang siap dipotong dari peternakan ayam broiler disekitar daerah Yogyakarta dan Jawa Tengah. ( 2 ). Dilakukan pemeriksaan ante mortem oleh petugas pemeriksa. ( 3 ). Dari hasil pemeriksaan ante mortem tersebut maka petugas pemeriksaan memutuskan boleh dan tidaknya ayam tersebut dipotong, ini dilakukan untuk mengawasi dan menjaga keamanan produk daging yang dihasilkan serta untuk menjaga kesehatan konsumen. 4 ). Pemotongan ayam dilakukan dibawah pengawasan dan menurut petunjuk- petunjuk petugas pemeriksaan. ( 5 ). Penyembelihannya dilakukan menurut tata cara islam. ( 6 ). Ayam- ayam yang akan disembelih sebelumnya di istirahatkan terlebih dahulu kurang lebih 5 -6 jam dengan tujuan saat disembelih darahnya dapat keluar dengan lancar dan mendapatkan daging yang berkualitas, kemudian diikat dan digantung yang telah tersedia baru disembelih, biasanya ayam-ayam yang diambil dari peternakan ayam broiler pada sore hari dan baru disembelih pada dini hari sekitar pukul 02.00 WIB. ( 7 ). Setelah ayam yang disembelih tidak bergerak dan darahnya berhenti mengalir, dilakukan penyelesaian penyembelihan, dengan ayam dimasukan ke dalam air panas bersuhu 52 – 60 0 C selama 1,5 menit untuk ayam muda dan suhu 70 – 80 0 C selama 1 -2 menit untuk ayam yang sudah tua, dalam proses pemanasan air menggunakan tungku yang berbahan bakar kayu ini dilakukan untuk keamanan RPA. ( 8 ). Setelah proses pencabutan dan pembersihan bulu selesai, dilakukan proses pengeluaran jerohan dan pemisahan karkas. Karkas merupakan ayam yang telah dikeluarkan jeroannya, kepala dipisahkan dengan leher hingga batas pemotongan dan kaki. Selama proses pengolahan akan terjadi kehilangan berat hidup kurang lebih 1/3 bagian (berat daging siap masak itu nantinya kurang lebih 2/3 dari berat hidupnya) karena bulu, kaki, cakar, leher, kepala, jeroan atau isi dalam dan ekor dipisah dari bagian daging tubuh.
           

Gambar 8 : pengemasan daging ayam.

Produk ternak yang berupa daging ayam di didistribusikan ke sejumlah daerah serta beberapa tempat makan juga hotel seperti Pecel Lele, RM. Lela, Hotel INNA GARUDA, Jogja Chicken, warung SS, warung Padang, Sejumlah pasar seperti pasar Demangan dan diambil langsung oleh para konsumen serta dikirim ke daerah Klaten.
Setiap bagian karkas dan non karkas hasil pemisahan dalam pemotongan ayam tersebut memiliki berbagai jenis harga sendiri dipasaran, dimana harga- harga bagian tersebut dapat berubah- ubah sesuai harga pasaran seperti harga daging ayam ( karkas ) pada saat ini sebesar Rp. 26.000 rupiah untuk per kilogram nya, untuk cakar Rp. 12.000 rupiah per kilogramnya, kepala Rp. 12.000 rupiah per kilogramnya, untuk bagian sayap Rp 20.000 rupiah per kilogramnya, usus ayam per kilogramnya Rp. 14.000 rupiah, dan hati ampela per kilogramnya Rp. 20.000 rupiah.



DAFTAR PUSTAKA
Anggorodi, R. 1980. Ilmu Makanan Ternak Umun. Gramedia. Jakarta

Robison. 1961. Modern Poultry Husdandry. Cross by Lockwood and Sons Limited. London.

Cahyono, B. 1995. Cara meningkatkan Budidaya Ayam Ras Pedaging (Broiler). Yayasan Pustaka Nusantara. Yogyakarta.

Cullison, AE. 1979. Feed and Feeding. Reston Publishing Company Inc reston. Virginia

Farrel, D. 1974. Pengaruh Suhu Tinggi terhadap Kemampuan Biologis dari Unggas. Laporan seminar Industri Perunggasan II. Puslitbangnak. Ciawi, Bogor.

Kubena, IP., T. L. Chan and  JW Denton. 1974. Factor Influencing The Quantity of Abdominal Fat in Broiler. Dientery Energy Levels. J. Poultry Science.

Murtidjo, BA. 1987. Pedoman Meramu Pakan Unggas. Kanisius. Yogyakarta.

Mollison, P. Dan W. Guenter. 1984. Abdominal Fat Deposition and Sadden Peath Syndrome in Broiler. The Effect of restricted Intake, Early live Calorie (fat) Restriction and Calorie Protein Ratio. J. Pou. Sci. 63 : 1190 – 1200.

Mountney, GJ. 1976. Poultry Products Tecnology. The AVI Publishing Co, Inc, Westport, Connectitcut.

Siregar, AP, M. Sabrani, P. Suprawiro. 1982. Teknik Beternak Ayam Pedaging di Indonesia. Margie Group.

Soeparno. 1998. Ilmu dan Teknologi Daging. Gajah Mada Press. Yogyakarta.