Gregorius Agung Pradipto, S.Pt instagram : greg_pradipto

Minggu, 25 September 2016

LAPORAN PRAKTIKUM TERNAK POTONG KOMPARATIF ( KELINCI )



LAPORAN PRAKTIKUM
TERNAK POTONG KOMPARATIF
( KELINCI )



Disusun oleh :
Gregorius Agung Pradipto
092199









AKADEMI PETERNAKAN BRAHMAPUTRA
YOGYAKARTA
2012


KATA PENGANTAR
            Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat dan rahmatNya sehingga penulis bisa menyelesaikan laporan praktikum “TERNAK POTONG KOMPARATIF ”
Dalam penyusunan laporan ini penulis telah berusaha semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan penulis. Namun sebagai manusia biasa, penulis tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan baik dari segi tekhnik penulisan maupun tata bahasa. Tetapi walaupun demikian penulis berusaha sebisa mungkin menyelesaikan laporan ini meskipun tersusun sangat sederhana.
Kami menyadari tanpa kerja sama antara  pembimbing dan penulis serta beberapa kerabat yang memberi berbagai masukan yang bermanfaat bagi penulis demi tersusunnya praktikum ini. Untuk itu penulis mengucapakan terima kasih kepada pihak diatas yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan arahan dan saran demi kelancaran penyusunan laporan praktikum ini. Demikian semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi penulis dan para pembaca pada umumnya. Kami mengharapkan saran serta kritik dari berbagai pihak yang bersifat membangun.


  
   

DAFTAR PUSTAKA
Halaman judul
Kata pengantar
Daftar pustaka
Bab I Pendahuluan
1.1  Latar belakang
1.2  Tujuan
Bab II Tinjauan pustaka
            2.1 Syarat lokasi
            2.2 Syarat dan tujuan ternak
            2.3 Kandang kelinci
            2.4 Sistem pencernakan kelinci
            2.5 Perkawinan dan kebuntingan
            2.6 Penyakit
Bab III Materi dan Metode
            3.1 Materi
            3.2 Metode
Bab IV Hasil dan Pembahasan
            4.1 Perkandangan
            4.2 Pemilihan bibit kelinci
            4.3 Pakan
            4.4 Reproduksi
            4.5 Penyakit
Bab V Kesimpulan
Daftar pustaka
           

 
BAB I
PENDAHULUAN
1.1   Latar belakang
Kelinci  merupakan  salah  satu  ternak  alternatif penghasil  daging sebagai sumber protein karena kelinci mempunyai  laju  pertunbuhan  dan perkembangbiakan yang relatif  cepat. Kelinci mampu  memproduksi daging yang  berkadar  lemak  sangat  rendah  dan  disamping  itu kelinci juga merupakan ternak penghasil bulu yang  potensial.
 Kelinci merupakan hewan pseudoruminansia. Lambungnya tidak sespesifik seperti pada hewan ruminansia yang memilik 4 lambung (rumen, reticulum, omasum, abomasum). Lambung pada kelinci hanya ada satu, yang terbagi menjadi bagian kardiak, fundus dan pylo.
Agar lebih mengerti mengenai spesifikasi kelinci ini, baik dalam hal nutrisi (pakan), reproduksi, perkandangan, dan sebagainya, maka dilangsungkanlah kegiatan kunjungan ke peternakan kelinci ini dalam rangka kegiatan praktikum ternak potong komparatif non ruminansia.

1.1  Tujuan
Agar praktikan dapat mengetahui secara langsung mengenai hal-hal yang terkait dengan ternak nonruminansia, khususnya dalam hal ini, adalah kelinci, baik itu masalah pakan, reproduksi, perkandangan, sistem pencernaan kelinci, syarat lokasi, syarat tujuan ternak ataupun mengenai penyakit dan vaksinasi.


  
BAB II
TINJAUNAN PUSTAKA
2.1       Syarat lokasi
Syarat lokasi peternakan kelinci yang ideal adalah dekat sumber air, jauh dari tempat kediaman, bebas gangguan asap, bau-bauan, suara bising dan terlindung dari predator. ( Anonymous, 2011)
Pemilihan lokasi ternak kelinci banyak dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya, lokasi sebaiknya dekat dengan sumber pakan (areal tanaman sayur, pasar sayur, atau pasar–pasar secara umum), lokasi dekat dengan daerah pemasaran, namun hal ini tidak berlaku bagi peternak yang sudah punya komunitas atau paguyuban, temperatur atau suhu ideal antara 15-250C, sebisa mungkin diusahakan lokasi kandang dekat dengan aliran sungai dan jauh dari permukiman penduduk, lokasi aman dari binatang buas atau pencuri.  (Munif, Achmad, 2011).

2.2       Syarat dan tujuan ternak
            Untuk syarat ternak tergantung dari tujuan utama pemeliharaan kelinci tersebut. untuk tujuan jenis bulu maka jenis Angora, American Chinchilla dan Rex merupakan ternak yang cocok. Sedang untuk tujuan daging maka jenis Belgian, Californian, Flemish Giant, Havana, Himalayan dan New Zealand merupakan ternak yang cocok dipelihara. Pemilihan bibit dan calon induk adalah bila peternakan bertujuan untuk daging, dipilih jenis kelinci yang berbobot badan dan tinggi dengan perdagingan yang baik, sedangkan untuk tujuan bulu jelas memilih bibit-bibit yang punya potensi genetik pertumbuhan bulu yang baik. Secara spesifik untuk keduanya harus punya sifat fertilitas tinggi, tidak mudah nervous, tidak cacat, mata bersih dan terawat, bulu tidak kusam, lincah atau aktif bergerak. (Anonymous, 2011).





2.3       Kandang kelinci
            Kandang berfungsi untuk melindungi kelinci dari pengaruh luar seperti cuaca buruk, binatang buas dan pencuri. Ternak kelinci bisa dipelihara secara koloni dan individual. Namun menurut pengalaman dan pengamatan bahwa kelinci-kelinci yang dikandangkan akan lebih mudah pengawasan, dan penanganannya. Memang tidak ada standar baku dalam membuat kandang kelinci. Intinya adalah kelinci tersebut merasa nyaman tinggal didalamnya sehingga akan menampilkan produksi terbaiknya. Tapi perlu diingat pula tentang biaya pembuatannya, jangan sampai modal nanti habis hanya untuk membuat kandang. Tetapi tidak salah kalau anda mencoba ukuran yang sering digunakan orang yaitu dengan ukuran PxLxT = 90×60×60 cm. apabila dalam sarang tersebut akan diletakkan sarang maka ukuran sarang berkisar PxLxT = 40×30×30cm. (Anonymous, 2009).
Kandang yang dianjurkan untuk memelihara kelinci adalah kandang system baterai. Dengan kandang system ini juga dapat dibuat bersusun atau bertingkat dengan dilengkapi semacam laci dari seng untuk menampung kotoran dan air kencing dari kelinci yang ada ditingkat atas. Bahan kandang adalah bilah bambu atau kayu dan kawat atau strimin. Satu petak kandang berukuran, panjang 0,5 - 075 m, lebar 0,5 - 0,6 m, tinggi 0,5 m, tinggi kandang dari tanah 0,6 m. Kandang beranak berukuran  Panjang 0,4 m ; lebar 0,3 m dan tinggi 0,3 m.

2.4       Sistem pencernakan kelinci
            Sistem pencernaan kelinci adalah sistem pencernaan yang sederhana (monogastrik) dengan coecum dan usus besar. Tidak seperti halnya hewan mamalia lainnya, kelinci mempunyai kebiasaan makan feses yang telah dikeluarkan. Sifat ini disebut coprophagy. Keadaan ini sangat umum terjadi pada kelinci dan hal ini berdasar pada kontruksi saluran pencernaannya. Sifat coprophagy biasanya terjadi berdasarkan pada malam atau pagi hari berikutnya. Feses yang berwarna hijau muda dan konsintensi lembek dimakan lagi oleh kelinci. Feses yang dikeluarkan pada siang hari dan telah berwarna coklat serta mengeras, tidak dimakan. Hal ini memungkinan kelinci itu memanfaatkan secara penuh pencernaan bakteri di saluran bagian bawah, yaitu mengkonversikan protein asal hijauan menjadi protein bakteri yang berkualitas tinggi, mensintesis vitamin B dan memecahkan selulose atau serat menjadi energi yang berguna. Jadi sifat coprophagy sebenarnya memang menguntungkan bagi proses pencernaan. (Abdillah, Fandi Achmad, 2011).
 Tatalaksana pemberian pakan meliputi pemilihan jenis bahan baku pakan, pemenuhan jumlah kebutuhan dan pola pemberian pakan. Kebutuhan protein pada kelinci berkisar antara 12 s/d 18%. Tertinggi pada fase menyusui (18%) dan terendah pada dewasa (12 %). Kebutuhan bahan kering pakan berdasarkan periode pemeliharaan berturut-turut muda bobot 1,8?3,2 kg (112?173 g/ekor/hari), dewasa bobot 2,3?6,8 kg (92?204 g/ekor/hari), induk bunting bobot 2,3?6,8 kg (115-251 g/ekor/hari) dan induk menyusui dengan 7 anak bobot 4,5 kg (520 g/ekor/hari). Jenis-jenis hijauan yang dapat diberikan sebagai pakan kelinci diantaranyarumput lapangan, daun ubi jalar, daun singkong, daun wortel, daun kangkung, kobis, daun turi dan lamtoro, dedak, bungkil kelapa, ampas tahu, ampas tapioka, ubi jalar, dan ubi kayu merupakan bahan pakan produk pertanian yang dapat diberikan pada ternak kelinci. Diantara bahan pakan inkonvensional, daun rami dengan tingkat pemberian sampai 30 % dan ampas teh dengan tingkat pemberian 40%, dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan kelinci. Pelayuan dan pencacahan pada hijauan merupakan perlakuan terbaik sebelum diberikan pada ternak. Perebusan atau pencampuran dengan air panas pada konsentrat dapat meningkatkan kualitas pakan dan mempercepat pertumbuhan kelinci. Konsentrat yang akan diberikan dipilih dari bahan yang disukai, mudah didapat dan tersedia secara kontinu. Konsentrat harus bersih, tidak rusak, tidak berjamur. Konsentrat diberikan pada tempat pakan yang mudah dijangkau oleh kelinci. Tempat pakan harus selalu dijaga kebersihannya, sisa pakan yang sudah berjamur segera dibuang. Pemberian pakan dilakukan 3 kali sehari. Konsentrat diberikan pada pagi hari sekitar pkl 10:00 setelah pembersihan kandang dan 1/3 bagian hijauan diberikan pada siang hari sekitar pkl 13:00 dan 2/3 bagian hijauan diberikan pada sore hari sekitar pkl 18:00. Pemberian air minum secara ad libitum (secara bebas dan terus menerus sampai kelinci itu berhenti sendiri sesuai keinginan) dapat memperlancar proses pencernaan. (Anonymous, 2002).

2.5       Perkawinan dan kebuntingan
            Ciri-ciri kelinci birahi :gelisah, menggosok-gosokkan dagunya pada sesuatu, vulva basah berwarna merah jambu atau  merah. (Anonymous, 2009).
            Secara umum tanda-tanda kelinci yang sedang hamil adalah si kelinci betina akan menolak untuk didekati oleh kelinci pejantan setelah masa kawinnya, kemudian dengan berjalannya waktu, si calon induk akan mulai terlihat mengumpulkan jerami-jerami atau sobekan kertas koran serta disertai dengan perontokan bulu untuk membuat sarangnya kira-kira seminggu sebelum masa kelahirannya. Kelinci yang sedang hamil juga memiliki nafsu makan atau minum yang bertambah, maklum makanan yang tadinya hanya untuk si calon induk kini harus berbagi dengan calon bayi yang dikandungnya. Kadang-kadang prilaku agresive juga ditunjukan dan biasanya ini dialami oleh kelinci yang baru pertama kali mengalami proses kehamilannya. Dapat pula dengan teknik palpasi, yakni perabaan bagian bawah perut. Beberapa orang mungkin bingung untuk membedakan antara kotoran dengan embrio, tapi hal ini bisa dihindari bahwa kotoran memiliki tekstur yang keras, akan terasa pada bagian perut yang mendekati tulang belakang sedangkan emrio adalah bertekstur gel (kenyal) dan biasanya bisa ditemukan pada bagian tengah perut. Melakukan teknik palpasi pada masa kehamilan yang telah melewati 2 minggu adalah lebih mudah menemukan embrio dibandingkan yang 10 hari karena pada  janin yang berusia 2 minggu biasanya embrio sudah mulai turun kebawa. Jika pada usia 2 minggu ini belum juga ditemukan adanya kehamilan, maka kelinci bisa dikawinkan kembali. (Anonymous, 2009).
Ada beberapa kiat agar ternak kelinci mempunyai catatan reproduksi yang baik, umur pertama kali dikawinkan berkisar antara 5-6 bulan, memilih waktu kawin pagi hari atau sore hari, imbangan sex ratio adalah 1:10, artinya seekor pejantan melayani 10 ekor induk, perkawinan kembali setelah beranak. Apabila yang diharapkan dari ternak kelinci adalah bakalan maka induk bisa dikawinkan 7-10 hari setelah beranak. Tapi apabila yang diinginkan nnatinya adalah sebagai ternak pengganti (stock replacement) maka sebaiknya induk dikawinkan kembali 40-45 hari setelah beranak atau setelah anak-anak lepas sapih. (Anonymous, 2011).

2.6       Penyakit
            Kelinci yang terserang penyakit pada umumnya menunjukkan gejala-gejala antara lain lesu, nafsu makan tidak ada, mata sayu, suhu badan naik turun, dan beberapa tanda khas dari penyakit yang menghinggapinya. Kelinci yang menunjukkan tanda-tanda seperti ini sebaiknya langsung dipisahkan untuk menghindari penyakit menular.
 Beberapa penyakit yang menyerang antara lain, coccidiosis (berak darah). Penyebabnya adalah coccidia, gejala penyakit ini digolongkan menjadi 3 tipe yang ringan tanpa gejala, yang sedang mencret dan kehilangan berat badan, yang berat perut tampak besar, mencret bercampur darah yang diikuti pneumonia. Pencegahan dengan membersihkan dan mengeringkan kandang. Pengobatan dengan obat sul-Q-Nox, Noxal, Sulfa Strong.
Pneumoia (radang paru-paru). Disebabkan oleh sebangsa bakteri yaitu pasturella multocida. Gejalanya antara lain pernafasan lewat hidung dan sesak nafas, mata dan telinga berwarna kebiruan, paru-paru lembab dan kadang-kadang berisi nanah, dan diikuti dengan mencret (scours). Dapat diobati dengan sul-Q-Nox yang dicampurkan pada makanan atau minuman. Mastitis (radang susu). Disebabkan oleh bakteri Staphylococcus. Gejalanya antara lain temperatur naik, susu dalam keadaan panas, serta kemerah-merahan. Air susu keruh, hitam keunguan, puting berwarna merah tua atau kebiruan dan nafsu makan berkurang. Penyakit ini dapat diobati dengan injeksi dengan penicillin 2 kali sehari. Kandang didesinfektan dan tidak boleh memindahkan anak dari induk sakit ke induk yang sehat.
 Bloat (kembung). Penyebabnya udara dalam kandang lembab atau basah, angin langsung, salah makan. Gejalanya antara lain biasanya kelinci berdiri dengan posisi membungkuk, kaki depan agak maju, telinga turun, mata surut dan memicing, gigi berkerat menahan haus selalu mendekati tempat minum, kotoran berwarna hijau gelap dan berlendir. Penyakit ini dapat diobati dengan Stop Diare dan Gastrop, Hermohagil, Diarrheal Enteritis.
Coriza atau pilek (Snuff). Penyebabnya adalah bakteri. Gejalanya adalah bersin-bersin, nafsu makan menurun dan kaki selalu menggaruk-garuk lubang hidung. Pencegahannya sanitasi kandang, kepadatan kandang diperhatikan, peningkatan gizi pakan, pemberian     vitamin dan vegetable harus cukup. Pengobatan dengan memberikan Cavia Drops(diberikan 3 sampai 5 tetes per hari per ekor). (Anonymous, 2011).


 
BAB III
MATERI DAN METODE
Adapun praktikun ternak potong non ruminansia ini dilaksanakan pada hari Rabu, 27 Juni 2012 pukul 15.00 sampai 16.30 WIB, peternakan kelinci ”rabbit menoreh”,  bertempat di peternakan kelinci milik bapak Johar arifin yang beralamatkan di Dlaban, Sentolo, Kulon Progo, Yogyakarta nomor telepon 0274 6671905 atau 08157912500.

3.1 Materi
Adapun alat alat yang digunakan dalam praktikum ini diantaranya buku dan alat tulis untuk mencatat hasil wawancara dengan bapak Johan, alat ukur (meteran) untuk mengukur kandang kelinci, kamera digital digunakan untuk mengabadikan kunjungan dan sebagai salah satu bukti praktikum, sedangkan bahan bahan yang digunakan adalah kandang kelinci, berbagai jenis kelinci, pakan kelinci, urie kelinci, kotoran kelinci.

3.2 Metode
Adapun data yang diambil dalam praktikum ini adalah data diambil dengan survei atau wawacara langsung dengan pemilik peternakan yang diselingi dengan tanya jawab seputar manajemen beternak kelinci.




BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
            4.1       Perkandangan
Bahan kandang diantaranya alas dari bambo (mudah menyerap), dinding dari kawat (ram) (sirkulasi terjaga baik), atap dari asbes, ukuran kandang battery dengan  ukuran 100 cmx 75cm x 50cm. Kandang berfungsi untuk melindungi kelinci dari pengaruh luar seperti cuaca buruk, binatang buas dan pencuri. Menurut pengalaman dan pengamatan bahwa kelinci-kelinci yang dikandangkan akan lebih mudah pengawasan, dan penanganannya. Memang tidak ada standar baku dalam membuat kandang kelinci. Intinya adalah kelinci tersebut merasa nyaman tinggal didalamnya sehingga akan menampilkan produksi terbaiknya.
Dari data hasil pengamatan diatas, kandang yang dipakai adalah system battery dengan ukuran 100cmx75cmx50cm, masing-masing untuk panjang, lebar dan tinggi.
Dalam literature disebutkan Kandang yang dianjurkan untuk memelihara kelinci adalah kandang system baterai. Dengan kandang system ini juga dapat dibuat bersusun atau bertingkat dengan dilengkapi semacam laci dari seng untuk menampung kotoran dan air kencing dari kelinci yang ada ditingkat atas. Bahan kandang adalah bilah bambu atau kayu dankawat.
Bahan yang dipakai pada peternakan ini pun hampir sama seperti yang disebutkan dalam lieteratur, yakni als terbuat dari bamboo, sedangkan dinding dari kawat (ram).
Ukuran yang sering digunakan orang adalah PxLxT = 90×60×60 cm. Apabila dalam sarang tersebut akan diletakkan sarang maka ukuran sarang berkisar PxLxT = 40×30×30cm. ukuran yang dipakai ternyata tidak berbeda dari apa yang digunakan pada peternakan kelinci milik bapak Johan ini.     



4.2       Pemilihan bibit kelinci
Perbedaan  kelinci potong dan hias, potong BB tinggi, proporsi tubuh sesuai standard contoh Giant, untuk hias rambutnya halus contoh Angora. Calon induk yg baik, 1. Postur tubuh (panjang, perut kendor), 2. Rambut (mengkilap), 3. Puting (panjang). Calon pejantan yg baik alat kelaminnya besar. Untuk syarat ternak tergantung dari tujuan utama pemeliharaan kelinci tersebut. untuk tujuan jenis bulu maka jenis Angora, American Chinchilla dan Rex merupakan ternak yang cocok. Sedang untuk tujuan daging maka jenis Belgian, Californian, Flemish Giant, Havana, Himalayan dan New Zealand merupakan ternak yang cocok dipelihara.
Pemilihan bibit dan calon induk adalah bila peternakan bertujuan untuk daging, dipilih jenis kelinci yang berbobot badan dan tinggi dengan perdagingan yang baik, sedangkan untuk tujuan bulu jelas memilih bibit-bibit yang punya potensi genetik pertumbuhan bulu yang baik. Secara spesifik untuk keduanya harus punya sifat fertilitas tinggi, tidak mudah nervous, tidak cacat, mata bersih dan terawat, bulu tidak kusam, lincah atau aktif bergerak. Sesuai dengan keterangan yang diberikan oleh pemilik peternaka maupun dari literatur, bahwa untuk kelinci potong bobot badan memang yang diutamakan, sedangkan untuk jenis hias, pertumbuhan rambutlah yang diutamakan. Untuk calon induk maupun pejantan dalam literature dilihat secara keseluruhan, yaitu sifat fertilitas tinggi, tidak mudah nervous, tidak cacat, mata bersih dan terawat, bulu tidak kusam, lincah atau aktif bergerak.     
   
4.3       Pakan
Adapun jenis pakan yang digunakan diantaranya, 1.    Hijauan, yang diberikan adalah rendeng( daun kacang tanah) dengan pemberian 20% dari berat badan kelinci pada malam hari 2.    Konsentrat,  jenis yg diberikan adalah ampas tahu dan bekatul diberikan pada pagi dan malam hari. Sistem pencernaan kelinci adalah sistem pencernaan yang sederhana (monogastrik) dengan coecum dan usus besar. Tidak seperti halnya hewan mamalia lainnya, kelinci mempunyai kebiasaan makan feses yang telah dikeluarkan. Sifat ini disebut coprophagy. Keadaan ini sangat umum terjadi pada kelinci dan hal ini berdasar pada kontruksi saluran pencernaannya.
Tatalaksana pemberian pakan meliputi pemilihan jenis bahan baku pakan, pemenuhan jumlah kebutuhan dan pola pemberian pakan. Kebutuhan protein pada kelinci berkisar antara 12 s/d 18%. Tertinggi pada fase menyusui (18%) dan terendah pada dewasa (12 %). Kebutuhan bahan kering pakan berdasarkan periode pemeliharaan berturut-turut muda bobot 1,8-3,2 kg (112/173 g/ekor/hari), dewasa bobot 2,3-6,8 kg (92?204 g/ekor/hari), induk bunting bobot 2,3-6,8 kg (115-251 g/ekor/hari) dan induk menyusui dengan 7 anak bobot 4,5 kg (520 g/ekor/hari). Jenis-jenis hijauan yang dapat diberikan sebagai pakan kelinci diantaranya rumput lapangan, daun ubi jalar, daun singkong, daun wortel, daun kangkung, kobis, daun turi dan lamtoro, dedak, bungkil kelapa, ampas tahu, ampas tapioka, ubi jalar, dan ubi kayu merupakan bahan pakan produk pertanian yang dapat diberikan pada ternak kelinci. Pelayuan dan pencacahan pada hijauan merupakan perlakuan terbaik sebelum diberikan pada ternak.
Pada peternakan kelincinya, bapak Johan hanya memberikan sisa pembuatan tahu(ampas tahu). Perebusan atau pencampuran dengan air panas pada konsentrat dapat meningkatkan kualitas pakan dan mempercepat pertumbuhan kelinci. Konsentrat yang akan diberikan dipilih dari bahan yang disukai, mudah didapat dan tersedia secara kontinu. Konsentrat harus bersih, tidak rusak, tidak berjamur. Konsentrat diberikan pada tempat pakan yang mudah dijangkau oleh kelinci. Untuk konsentrat, dari hasil kunjungan kami, peternakan tersebut menggunakan ampas tahu dan bekatul. Pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari. Konsentrat diberikan pada pagi hari sekitar pkl 10:00 setelah pembersihan kandang dan ampas tahu, bekatul serta hijauan(rendeng) diberikan malam hari. Waktu pemberianpun berebeda dengan yang telah disebutkan pada literature, konsentrat pagi, sedangkan hijauan siang dan sore, bila konsentrat di literature disebutkan diberikan jam 10.00, maka bapak Johan memberikan konsentrat jam10.00, untuk hijauan diberikan pada malam hari bersamaan dengan ampas tahu dan bekatul.

4.4       Reproduksi
Untuk management perkawinan,
1.    Umur pertama kawin (induk)    : 7 bulan
BB                : 1,5 kg (untuk jenis inggris), 4,5 kg (untuk jenis Giant)
2.    Umur pertama kawin jantan pemacek : 12 bulan
BB                : 2 kg (untuk jenis kecil),  5 kg (untuk jenis besar)
•    Cara mengawinkan : kelinci betina dimasukkan ke dalam kandang pejantan.
•    Management kebuntingan
1.    Pemeriksaan kebuntingan    : kelamin diraba, bila berminyak, berarti bunting
2.    Waktu pemeriksaan kebuntingan : 5 hari sudah kelihatan buntingnya.
3.    Persiapan menjelang melahirkan  : dari kawin 25 hari, lalu menyiapkan kotak anak
4.    Tanda birahi : 3A (abang, aboh, anget)
•    Management setelah melahirkan
1.    Metode penyusuan : disusui sendiri ( anak ada didalam kotak anak, lalu kotak dimasukkan dalam kandang induk)
2.    Lama penyusuan : 2 bulan (untuk bibit)
3.    Perkawinan lagi : 2 minggu
Contoh :
Pada peternakan tersebut ada kelinci yg baru melahirkan :
Jenis induk : New Zealand White
Jumlah anak : 8 ekor
Umur anak : 10 hari
BB induk : 4,5 kg
Diatas adalah data dari kelinci yang kami amati di peternakan kelinci Prima rabbit, disana disebutkan umur pertama kali induk dikawinkan adalah 7 bulan. Dalam literature disebutkan adalah berkisar antara 5-6 bulan. Perbedaaan anatar keduanya tidak terlalu mencolok. Disebutkan pula dalam literature Imbangan sex ratio adalah 1:10, artinya seekor pejantan melayani 10 ekor induk. Untuk cara mengawinkan adalah mayoritas orang memasukkan kelinci betina ke kandang jantan, bukan sebaliknya. Bila menurut penuturan pemilik peternakan, bila pejantan yang dimasukkan ke kandang betina, maka pejantan memerlukan adaptasi yang berlebih, biasanya hanya berputar-putar didalam kandang, sehingga proses perkawinan terganggu.
Untuk pemeriksaan kebuntingan bila dari hasil kunjungan kami adalah, peternak meraba kelamin, bila kelaminnya berminyak,berarti kelinci tersebut sedang bunting. Biasanya kebuningan usia 5 hari sudah kelihatan, peternak pun biasanya, sesaat sebelum menjelang kelahiran adalah menyiapkan kotak anak.
Sedangkan dalam literature disebutkan Secara umum tanda-tanda kelinci yang sedang hamil adalah si kelinci betina akan menolak untuk didekati oleh kelinci pejantan setelah masa kawinnya, kemudian dengan berjalannya waktu, si calon induk akan mulai terlihat mengumpulkan jerami-jerami atau sobekan kertas koran serta disertai dengan perontokan bulu untuk membuat sarangnya kira-kira seminggu sebelum masa kelahirannya. Kelinci yang sedang hamil juga memiliki nafsu makan atau minum yang bertambah, maklum makanan yang tadinya hanya untuk si calon induk kini harus berbagi dengan calon bayi yang dikandungnya. Kadang-kadang prilaku agresive juga ditunjukan dan biasanya ini dialami oleh kelinci yang baru pertama kali mengalami proses kehamilannya. Dapat pula dengan teknik palpasi, yakni perabaan bagian bawah perut. Melakukan teknik palpasi pada masa kehamilan yang telah melewati 2 minggu adalah lebih mudah menemukan embrio dibandingkan yang 10 hari karena pada  janin yang berusia 2 minggu biasanya embrio sudah mulai turun kebawah.
Perbedaannya disini adalah, peternak mengatakan, kebuntingan pada usia 5 hari sudah terlihat, sedangkan pada literature, apabila dengan menggunakan teknik palpasi, usia 10 hari, saja masih dibilang cukup sulit, untuk menentukan apakah yang diraba benar embrio atau bukan, minimal terlihat adalah 2 minggu. Disinilah letak perbedaannya.
Apabila yang diharapkan dari ternak kelinci adalah bakalan maka induk bisa dikawinkan 7-10 hari setelah beranak. Tapi apabila yang diinginkan nantinya adalah sebagai ternak pengganti (stock replacement) maka sebaiknya induk dikawinkan kembali 40-45 hari setelah beranak atau setelah anak-anak lepas sapih. Bila dalam hasil pengamatan kami, induk dikawinkan kembali setelah 2 minggu. Untuk mengetahui tanda birahi pada ternak kelinci sebelum dikawinkan, bila dari hasil kunjungan adalah dengan 3A (Abang, aboh,anget) pada kelaminnya. Bila dari literature disebutkan, kelinci akan , gelisah, menggosok-gosokkan dagunya pada sesuatu, vulva basah berwarna merah jambu atau merah.





4.5       Penyakit
Dalam peternakan tersebut ada beberapa kelinci yg sakit,
•    Jenis penyakit : scabies (kudis)
•    Tanda : pada bagian yg terserang rambutnya rontok, karena gatal biasanya kelinci menggaruknya dengan menggesek-gesekkan bagian yg gatal ke kandang.
•    Jenis obat yg diberikan : formatin dan ipomex (mahal)
•    Pencegahan : biasanya pada saat pergantian cuaca diberi kencur (sebagai jamu)
•    Cara memberikan obat adalah dengan injeksi atau suntikan.
•    Selain scabies, penyakit yang pernah menyerang kelinci-kelinci disini adalah kembung.
Hasil pengamatan tentang berbagai penyakit yang menyerang kelinci sesuai hasil kunjungan adalah seperti yang tertulis diatas. Sedangkan dalam literature, disebutkan berbagai macam penyakit lainnya, diantaranya :
Coccidiosis (berak darah). Penyebabnya adalah coccidia, gejala penyakit ini digolongkan menjadi 3 tipe yang ringan tanpa gejala, yang sedang mencret dan kehilangan berat badan, yang berat perut tampak besar, mencret bercampur darah yang diikuti pneumonia. Pencegahan dengan membersihkan dan mengeringkan kandang. Pengobatan dengan obat sul-Q-Nox, Noxal, Sulfa Strong.
Pneumoia (radang paru-paru). Disebabkan oleh sebangsa bakteri yaitu pasturella multocida. Gejalanya antara lain pernafasan lewat hidung dan sesak nafas, mata dan telinga berwarna kebiruan, paru-paru lembab dan kadang-kadang berisi nanah, dan diikuti dengan mencret (scours). Dapat diobati dengan sul-Q-Nox yang dicampurkan pada makanan atau minuman.
Mastitis (radang susu). Disebabkan oleh bakteri Staphylococcus. Gejalanya antara lain temperatur naik, susu dalam keadaan panas, serta kemerah-merahan. Air susu keruh, hitam keunguan, puting berwarna merah tua atau kebiruan dan nafsu makan berkurang. Penyakit ini dapat diobati dengan injeksi dengan penicillin 2 kali sehari. Kandang didesinfektan dan tidak boleh memindahkan anak dari induk sakit ke induk yang sehat.
Bloat (kembung). Penyebabnya udara dalam kandang lembab/basah, angin langsung, salah makan. Gejalanya antara lain biasanya kelinci berdiri dengan posisi membungkuk, kaki depan agak maju, telinga turun, mata surut dan memicing, gigi berkerat menahan haus selalu mendekati tempat minum, kotoran berwarna hijau gelap dan berlendir. Penyakit ini dapat diobati dengan Stop Diare dan Gastrop, Hermohagil, Diarrheal Enteritis.
Coriza atau pilek (Snuff). Penyebabnya adalah bakteri. Gejalanya adalah bersin-bersin, nafsu     makan menurun dan kaki selalu menggaruk-garuk lubang hidung. Pencegahannya     sanitasi kandang, kepadatan kandang diperhatikan, peningkatan gizi pakan, pemberian vitamin dan vegetable harus cukup. Pengobatan dengan memberikan Cavia Drops (diberikan 3 sampai 5 tetes per hari per ekor).
Beberapa penyakit tersebut diatas juga dapat menyerang kelinci, selain yang disebutkan oleh bapak Johan sebagai peternak kelinci yang telah kami kunjungi. Dalam literature juga disebutkan, bahwa kelinci yang terserang penyakit pada umumnya menunjukkan gejala-gejala antara lain lesu, nafsu makan tidak ada, mata sayu, suhu badan naik turun, dan beberapa tanda khas dari penyakit yang menghinggapinya. Kelinci yang menunjukkan tanda-tanda seperti ini sebaiknya langsung dipisahkan untuk menghindari penyakit menular. Dalam peternakan milik bapak Johan, bila ada ternak yang sakit, beliau memang memisahkan antara ternak yang sakit dan yang tidak. Biasanya, ternak yang sakit lebih sering dilepas daripada dikandangkan. Saat kami berkunjung, ada satu ternak yang sakit dan dipisahkan dari ternak yang lain, namun dilepas, tidak dikandangkan.


BAB V
KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari kujungan peternakan kelinci “rabbit menoreh” milik bapak Johar arifin yang beralamatkan di Dlaban, Sentolo, Kulon Progo, Yogyakarta adalah memilih bibit kelinci potong , BB besar, proporsi tubuh sesuai standard
contoh  Giant, Kelinci hias, rambutnya halus  contoh  Angora. Calon induk yang baik, postur tubuh (panjang, perut kendor), rambut (mengkilap), putting (panjang), calon pejantan yang baik  alat kelaminnya besar . Perkandangan , untuk bahan alas : bambu, dinding : kawat (ram), atap : asbes. Jenis    : battery . Ukuran p x l x t = 100 x 75 x 50 cm. Untuk pakan yang diberikan berupa ampas tahu yang diberikan pagi hari, sedangkan pada malam hari diberikan bekatul, ampas tahu dan hijaunan (rendeng). Reproduksi , umur pertama induk kawin  7 bulan, BB 1,5 kg (jenis Inggris), 4,5 kg (jenis Giant). Umur pertama jantan pemacek 12 bulan, BB 5 kg (jenis besar), 2 kg (jenis kecil). Cara mengawinkan betina dimasukkan ke kandang pejantan. Pemeriksaan kebuntingan kelamin diraba, bila berminyak, berarti bunting atau dengan tekni palpasi (perabaan bagian bawah perut).  Induk dapat dikawinkan lagi setelah berjarak 2 minggu, setelah masa sapih. Penyakit yang sering menyerang peternakan “Rabbit menoreh”, adalah scabies dan kembung. Scabies seperti kudis, ternak biasanya menggrukkan bagian yang terserang ke kandang, karena gatal. Jenis obat yang diberikan biasanya adalah formatin atau ipomex (mahal). Saat pergantian musim, biasanya ternak diberi kencur (sebagai jamu). Cara pemberian obat adalah dengan injeksi.  Penyakit lain yang dapat menyerang ternak kelinci adalah pilek, radang paru-paru, radang usus, berak darah.






            Daftar pustaka
Anonymous, 1986.  Pemeliharaan Kelinci dan Burung Puyuh.  Yasaguna, Jakarta.
Kartadisastra. HR, 1995. Beternak Kelinci Unggul.  Kanisius, Yogyakarta.
Sarwono. B, 1985. Beternak Kelinci Unggul. Penebar Swadaya, Jakarta.
Yunus. M dan Minarti. S, 1990. Aneka Ternak. Universitas Brawijaya, Malang.









           

                       



2 komentar: